Jumat, 02 September 2016
Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia dalam kalender Islam. Tentu umat Islam senantiasa menantikan kedatangannya, khususnya para calon jamaah haji, muslim dan muslimah yang shalih dan shalihah niscaya merindukan untuk memperbanyak ibadah di dalamnya, juga tentunya para peternak hewan qurban.
Berikut ini adalah beberapa keutamaan bulan Dzulhijjah yang mesti kita ketahui dan semoga bisa memotivasi kita untuk melakukan banyak amal kebaikan pada bulan tersebut.
KEUTAMAAN DZULHIJJAH
1. Dzulhijjah termasuk Asyhurul Hurum
Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Ta’ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.[1]
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …" (QS. Al Maidah (5): 2)
Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya.
Bulan yang termasuk Asyhurul hurum(bulan-bulan haram) adalahDzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharam. (Sunan At Tirmidzi No. 1512)
2. Anjuran Banyak Ibadah Pada Sepuluh Hari Pertama (Tanggal 1-10 Dzulhijjah)
Sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan yang besar. Disebutkan dalam Al Quran:
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh."(QS. Al Fajr (89): 1-2)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullahmenjelaskan maknanya:
والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف.
(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf.
Keutamaannya pun juga disebutkan dalam As Sunnah. Dari Ibnu AbbasRadhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ
“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini." Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?" Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun." (HR. Bukhari No. 969)
Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud dari “pada hari-hari ini" adalah sepuluh hari Dzulhijjah.[l
Maka, amal-amal shalih apa pun bisa kita lakukan antara tanggal satu hingga sepuluh Dzulhijjah; sedekah, shalat sunnah, shaum –kecuali pada tanggal sepuluh Dzulhijjah- , silaturrahim, dakwah, jihad, dan lainnya.
Amal-amal ini pada hari-hari itu dinilai lebih afdhal dibanding jihad, apalagi berjihad pada hari-hari itu, tentu memiliki keutamaan lebih dibanding jihad pada selain hari-hari itu.
3. Shaum ‘Arafah (Pada 9 Dzulhijjah)
Dari Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu,
katanya:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Nabi ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab: “Menghapuskan dosa tahun lalu dan tahun kemudian." (HR. Muslim No. 1162, At Tirmidzi No. 749, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2805, Ath Thabari dalam Tahdzibul AtsarNo. 763, Ahmad No. 22535, 22650. Ibnu Khuzaimah No. 2117, dan ini adalah lafaz Imam Muslim)
Hadits ini menunjukkan sunahnya puasa ‘Arafah.
Apakah Yang Sedang Wuquf Dilarang Berpuasa ‘Arafah?
Imam At Tirmidzi Rahimahullahmengatakan:
وقد استحب أهل العلم صيام يوم عرفة إلا بعرفة
Para ulama telah menganjurkan berpuasa pada hari ‘Arafah, kecuali bagi yang sedang di ‘Arafah. (Sunan At Tirmidzi, komentar hadits No. 749)
Apa dasarnya bagi yang sedang wuquf di ‘Arafah dilarang berpuasa?
Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammelarang berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah. (HR. Abu Daud No. 2440, Ibnu Majah No. 1732, Ahmad No. 8031, An Nasa’i No. 2830, juga dalam As Sunan Al Kubra No. 2731, Ibnu Khuzaimah No. 2101, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1587)
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim tapi keduanya tidak meriwayatkannya." (Al Mustadrak No. 1587) Imam Adz Dzahabi menyepakati penshahihannya.
Dishahihkan pula oleh Imam Ibnu Khuzaimah, ketika beliau memasukkannya dalam kitab Shahihnya. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar:
قُلْت قَدْ صَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَوَثَّقَ مَهْدِيًّا الْمَذْكُورَ: ابْنُ حِبَّانَ
Aku berkata: Ibnu khuzaimah telah menshahihkannya, dan Mahdi telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. (At Talkhish, 2/461-462)
4. Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban
Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman;
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (QS. Al Kautsar: 2)
Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahsunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
شرعت صلاة العيدين في السنة الاولى من الهجرة، وهي سنة مؤكدة واظب النبي صلى الله عليه وسلم عليها وأمر الرجال والنساء أن يخرجوا لها.
Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya. (Fiqhus Sunnah, 1/317)
5. Tidak Berpuasa pada Hari Raya (10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya:hasan shahih, Ad Darimi No. 1764)[10]
Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum." (HR. Muslim No. 1141)
6. Berdzikir Kepada Allah Ta’ala pada hari-hari Tasyriq
Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: “dan hari berdzikir kepada Allah." (HR. Muslim No. 1141)
Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah SWT.
YANG HARUS DIHINDARI
1. Kaum muslimin memasuki bulan Dzulhijjah, tetapi tidak mengetahui keutamaannya sehingga banyak FADHILLAH terlewat sia-sia.
2. Mengkhususkan PUASA hanya pada hari ke 8, yang disebut sebagai puasa TARWIYAH.
3. Melaksanakan puasa Arafah, padahal sedang berwujud di Arafah ( berhaji). Padahal hukum yang rajin adalah MAKRUH.
4. Berpuasa padahal hari TASYRIK
5. Menyembelih hewan quran tanpa menyebut ASMA ALLAH SWT.
6. Mempersyaratkan untuk menghadap qiblat pada saat MENYEMBELIH HEWAN QURBAN.
7. Orang yang hendak berqurban memotong kuku dan rambutnya, padahal herannya belum disembelih.
8. Orang yang sedang berqurban menjual daging atau kulit hewan qurbannya.
9. Memberikan DAGING, KULIT, atau ANGGOTA TUBUH HEWAN QURBAN sebagai UPAH atas penyembelihan (kepada orang yang menyembelih).
10. Menyembelih kambing saat memasuki 10 Dzulhijjah dengan meniatkan/ menganggap hal itu sebagai WALIMATUL AMWAT ( Walimah Kematian), tujuannya untuk MEMULIAKAN orang-orang yang telah MENINGGAL DUNIA.
IBROH/PELAJARAN DARI IBADAH PADA BULAN DZULHIJJAH
Bahwa semua ibadah tsb adalah
1. Sebagai BUKTI KETAATAN hamba HANYA kepada Allah SWT.
2. Kita melakukan ibadah tsb karena dilandasi MAHABBATULLAH ( Cintaan kepada Allah SWT) kita letakkan di atas segala hal duniawi, MAHABBATURRASULULLAH SAW (Cinta kepada Rasulullah SAW), MAHABBAH LISY SYAARI'AH ( Cinta kepada Aturan dan Hukum Allah SWT).
3. Seorang Muslim harus meyakini dan berprinsip bahwa
"Haitsu maa yakuunusy syar'ah - Takuunul MASLAHAH"
(Pada saat manusia ( taat) dalam melaksanakan hukum syara', ( in saya Allah) disitulah (pasti) ada kemaslahatan).
4. Semua bentuk ibadah tsb sebagai PERSEMBAHAN TERBAIK HAMBA sebagai TADHIYYAH DIINILLAH (Wujud PENGORBANAN hamba kepada Agama ( Allah SWT)
NOTE:
Penentuan awal ( tanggal 1) Dzulhijjah bukan melalui sidang itsbat di setiap nation/ negara, tetapi ditetapkan dari hasil RU'YAT pemerintahan dimana ibadah HAJI itu dilaksanakan (wilayah Makkah dan Madinah).
Hal yang berbeda dengan penentuan AWAL RAMADHAN.
Wallahu A’lam bi Shawab
*****
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar